Lulusan Terbaik Unnes, Anak Tukang Becak Terima Beasiswa SBY ke Inggris
Sebagai wisudawati terbaik di Universitas Negeri Semarang (Unnes), Indeks Prestasi Komulatif (IPK) RAeni, mahasiswi Jurusan Akuntansi Unnes, itu nyaris sempurna: 3,96. Dia berhasil menjadi yang terbaik dari 955 mahasiswa S1, 19 D3, serta 73 magister dan dokter. Waktu kuliahnya pun hanya 3,5 tahun. Tanpa ada rasa malu, Selasa (10/6) lalu Raeni yang mengenakan kebaya lengkap dengan toganya, berangkat wisuda diantar naik becak ayahnya, Mugiono (55). Mereka berangkat dari indekos Raeni di Jl Kalimasada No 22, Banaran, Sampangan, yang berjarak 500 meter ke tempat wisuda.
Wajah Mugiono berseri-seri, seakan menyiratkan kebahagiaan dan rasa bangganya melihat putri bungsunya bakal diwisuda. Dia tidak menghiraukan rasa lelah, meski harus mengayuh becak melewati jalan menanjak. Sampai di kampus, Raeni dan ayahnya langsung menjadi perhatian para keluarga wisudawan lainnya. Maklum, di saat yang lain diantar mobil atau naik taksi, Raeni justru diantar naik becak reyot. Namun, itu tidak membuat keduanya malu atau risih. Senyum justru terus mengembang dari bibir keduanya. Apalagi ketika Rektor Unnes Prof Dr Fathur Rokhman MHum menyambut mereka. Mugiono dan Raeni pun langsung menyalami pimpinan tertinggi di Unnes itu.
Penurut
Raeni memang dilahirkan dari keluarga kurang mampu. Ayahnya hanya seorang tukang becak yang berpenghasilan sekitar Rp10.000-Rp 15.000 per hari dan penjaga malam dengan honor Rp 400 ribu per bulan. Sedang ibunya, Sujamah (50) atau biasa dipanggil Jamah, hanya berjualan makanan kecil dan minuman di depan rumah, dengan pendapatan sekitar Rp 50.000 per hari. Sehingga mereka tidak pernah bermimpi bisa menguliahkan putrinya.
Raeni memang dilahirkan dari keluarga kurang mampu. Ayahnya hanya seorang tukang becak yang berpenghasilan sekitar Rp10.000-Rp 15.000 per hari dan penjaga malam dengan honor Rp 400 ribu per bulan. Sedang ibunya, Sujamah (50) atau biasa dipanggil Jamah, hanya berjualan makanan kecil dan minuman di depan rumah, dengan pendapatan sekitar Rp 50.000 per hari. Sehingga mereka tidak pernah bermimpi bisa menguliahkan putrinya.
Ditemui Nyata di rumahnya, Desa Langenharjo, Kendal, Jawa Tengah, Kamis (12/6), Sujamah mengungkapkan rasa bangganya punya anak pintar. ”Senang lah Mas, anak bisa juara satu,” ucapnya. Saking bangganya, pemberitaan tentang Raeni di media cetak digunting, dibingkai, dan dipasang di dinding kayu rumahnya. Raeni memang menjadi kebanggaan pasangan Mugiono dan Sujamah.
Menurut Jamah, sejak kecil Raeni memang termasuk pintar. Saat sekolah di SD Langenharjo, putri bungsu dari dua bersaudara itu selalu juara satu. Itu terus berlanjut saat dia di SMP Patebon dan SMKN 1 Kendal.”Alhamdulillah, Raeni penurut. Dia selalu menurut bila dinasihati supaya rajin belajar biar nasibnya tidak seperti bapak-ibunya. Dia tidak pernah aneh-aneh. Waktunya belajar ya belajar. Kalau main ya main,” cerita Jamah dalam bahasa Jawa.
Usai lulus SMK, Jamah dan suaminya sebenarnya mengungkapkan bahwa mereka tidak sanggup bila harus menguliahkan Raeni. ”Kuliah meniko kan biayanipun katah (kuliah itu kan biayanya banyak). Kula mboten kuat (saya tidak mampu),” ujar Jamah, lirih. Saat itu, ayah Raeni memang masih menjadi karyawan pabrik kayu. Tapi, dia merasa tidak mampu bila harus membiayai kuliah Raeni yang tentunya sangat besar. ”Bapak bilang, bayar kuliah pakai apa? Bapak nggak punya duit. Tapi, ketika saya bilang kuliahnya nggak bayar karena ada beasiswa, Bapak langsung bolehin. Nanti untuk biaya hidup akan diusahakan sama Bapak,” tutur Raeni ditemui Nyata saat berada di Jakarta karena diundang tampil oleh televisi swasta, Jumat (13/6).
Tidak Mudah
Menurut Raeni, meski penghasilan orangtuanya pas-pasan, mereka sebenarnya selalu mengusahakan yang terbaik untuk pendidikannya. Bila terpaksa harus utang, itu juga akan dilakukan mereka. Karena itulah, setelah berhasil lulus ujian masuk perguruan tinggi negeri, dia kemudian mencari beasiswa. Untungnya ada program bidikmisi dari pemerintah. Gadis kelahiran Kendal 13 Januari 1993 yang bercita-cita menjadi guru itu pun langsung mengikuti program tersebut. ”Alhamdulillah, saya diterima,” ujar Raeni bersyukur.
Menurut Raeni, meski penghasilan orangtuanya pas-pasan, mereka sebenarnya selalu mengusahakan yang terbaik untuk pendidikannya. Bila terpaksa harus utang, itu juga akan dilakukan mereka. Karena itulah, setelah berhasil lulus ujian masuk perguruan tinggi negeri, dia kemudian mencari beasiswa. Untungnya ada program bidikmisi dari pemerintah. Gadis kelahiran Kendal 13 Januari 1993 yang bercita-cita menjadi guru itu pun langsung mengikuti program tersebut. ”Alhamdulillah, saya diterima,” ujar Raeni bersyukur.
Mugiono dan Jamah tentu sangat senang ketika putrinya mendapat beasiswa dari Unnes. Namun, bukan berarti masalah selesai sampai di situ. Sebab, mereka masih harus menutup biaya hidup Raeni selama kuliah di Semarang, dan itu tidak sedikit. Biaya kos sebanyak Rp 1,4 juta setahun, harus dibayar di depan. Belum lagi harus membeli laptop yang harganya sekitar Rp 4 juta untuk keperluan Raeni. Untuk itu, Jamah dan suaminya harus utang sana-sini. ”Mau, bagaimana lagi, harus diusahakan,” ucap Jamah.
Namun, akhirnya ayah Raeni, Mugiono, memutuskan pensiun dini dari perusahaan kayu tempatnya bekerja. Uang pensiun itu lantas digunakan untuk melunasi utang laptop. Sejak berhenti bekerja pada 2010, Mugiono mencari uang dengan menarik becak. Dia biasa mangkal di dekat rumahnya di Kendal. Raeni mengaku tidak mudah bagi orang kalangan bawah seperti dirinya untuk menimba ilmu di bangku kuliah. Dia sering dicibir oleh tetangganya, karena dianggap tidak melihat kemampuan orangtua. ”Ada tetangga bilang, orang nggak mampu ngapain kuliah, ngrepotin orangtua saja,” kenang Raeni.
Meski sedih, Raeni tetap memantapkan hatinya untuk terus kuliah. Dia tidak memedulikan omongan orang. ”Bapak dan ibu sayang sama saya. Mereka tetap ingin saya terus kuliah,” ucap gadis yang ingin mengubah nasib keluarganya itu. Mugiono memang membulatkan tekad dan semangat besar putri bungsunya itu untuk kuliah agar bisa menjadi guru, seperti yang dicita-citakannya sejak kecil. ”Sebagai orangtua, saya hanya bisa mendukung. Saya rela mengajukan pensiun dini dari perusahaan kayu lapis agar dapat pesangon. Uang itu antara lain untuk menutup utang beli laptop,” ujarnya.
Minder
Raeni mengakui, menjelang kuliah, dirinya sempat minder. Selain banyak saudaranya yang tidak kuliah, dia juga sempat malu memiliki ayah yang pekerjaannya menarik becak. ”Namun, akhirnya saya pikir lagi, buat apa minder. Kan mereka orangtua saya, yang membesarkan saya. Meski tidak memberi biaya hidup banyak saat kuliah, tapi mereka sangat mendukung dan terus mendoakan saya,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Raeni mengakui, menjelang kuliah, dirinya sempat minder. Selain banyak saudaranya yang tidak kuliah, dia juga sempat malu memiliki ayah yang pekerjaannya menarik becak. ”Namun, akhirnya saya pikir lagi, buat apa minder. Kan mereka orangtua saya, yang membesarkan saya. Meski tidak memberi biaya hidup banyak saat kuliah, tapi mereka sangat mendukung dan terus mendoakan saya,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Raeni berusaha sekuat tenaga untuk membuktikan dirinya mampu bersaing dengan mereka yang berasal dari keluarga berkecukupan. Raeni yang di awal kuliah masih mendapat kiriman dari orangtuanya sebesar Rp 200 ribu per bulan untuk membeli buku, akhirnya bisa mencukupi kebutuhannya sendiri. Menginjak semester enam, Raeni tak lagi minta kiriman uang dari orangtuanya. Dia mendapat uang tambahan dari hasil memberi les privat akuntansi kepada anak-anak SMA. ”Awalnya satu murid, terus enam murid. Alhamdulillah, semuanya lulus ujian,” ujarnya.
Selain itu, Raeni juga sangat aktif di kampusnya. Dia menjadi Tenaga Laboratorium Asistenship Pendidikan Akuntansi dan Tenaga Laboratorium Assitenship Jurusan Pendidikan Ekonomi FE Unnes. Bahkan, beberapa kali dia mengikuti lomba dan berhasil menang. Hadiahnya buat menambah uang saku, dan kadang juga diberikan kepada orangtuanya. ”Saya memang tidak ingin membebani orangtua. Mereka sudah memberi kepercayaan kepada saya untuk kuliah, saya ingin membalas kepercayaan itu dengan meraih prestasi,” ungkapnya. Di saat libur semester, biasanya Raeni pulang ke Kendal. Kegiatannya selama di rumah hanya membantu membereskan pekerjaan rumah, mengajar ngaji dan santai. ”Dia nggak pernah pergi-pergi,” ujar Jamah.
Manajemen Waktu
Soal prestasi Raeni selama kuliah, Jamah mengaku tidak mengerti. Dia hanya tahu, nilai anaknya di Kartu Hasil Studi (KHS) yang dikirim dari kampus setiap akhir semester, selalu empat. Jamah baru sadar jika putrinya benar-benar membanggakan saat diwisuda beberapa waktu yang lalu. ”Saya bangga waktu nama anak saya disebut dan mendapat nilai paling bagus. Dia juga membaca sambutannya. Saya hanya bisa nangis waktu mendengarkan,” ujar Jamah sambil menitikkan air mata.
Soal prestasi Raeni selama kuliah, Jamah mengaku tidak mengerti. Dia hanya tahu, nilai anaknya di Kartu Hasil Studi (KHS) yang dikirim dari kampus setiap akhir semester, selalu empat. Jamah baru sadar jika putrinya benar-benar membanggakan saat diwisuda beberapa waktu yang lalu. ”Saya bangga waktu nama anak saya disebut dan mendapat nilai paling bagus. Dia juga membaca sambutannya. Saya hanya bisa nangis waktu mendengarkan,” ujar Jamah sambil menitikkan air mata.
Menurut Raeni, manajemen waktu menjadi kunci suksesnya. Dia mengatur waktu belajarnya. Bahkan, bila ada jeda pergantian mata kuliah dia akan langsung menemui dosen ketika ada materi yang belum dimengerti. Meski belajar dan mengerjakan tugas menjadi prioritas saat kuliah, Raeni tetap menjaga komunikasi dengan teman-temannya. ”Bagaimana pun kan saya perlu update info,” ucap seraya tersenyum. Raeni yang sebelumnya minder karena punya orangtua yang kurang mampu, kini sangat bersyukur. Bahkan, bagi Raeni, bapak dan ibunya adalah sumber inspirasinya.
Itulah yang membuatnya tidak malu saat diantar bapaknya naik besak saat wisuda. ”Orangtua saya memang cuma lulusan SD, tetapi semangat dan perjuangan mereka untuk anak-anaknya luar biasa,” pujinya. Kini dengan apa yang telah diraihnya, Raeni berharap bisa membahagiakan orangtuanya. Dia juga berharap ilmu yang dimilikinya bisa berguna buat banyak orang. Bagi Raeni, menjadi sarjana adalah awal untuk meraih cita-cita lain yang lebih tinggi. Bercita-cita akhir menjadi seorang guru, dia punya keinginan untuk mewujudkannya dalam waktu dekat. Dia ingin mendirikan sekolah gratis untuk anak-anak tidak mampu seperti dirinya. ”Saya ingin bisa jadi manfaat untuk banyak orang. Terutama untuk anak-anak yang tidak mampu seperti saya,” ujarnya.
Beasiswa dari SBY
Gencarnya pemberitaan tentang Raeni ternyata juga didengar oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY). Melalui akun Twitter-nya @S.B.Yudhoyono, SBY menyatakan akan memberi beasiswa sekolah di luar negeri untuk putri seorang pengayuh becak asal Desa Langenharjo, Kecamatan Kendal, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. ”Memenuhi rencana Raeni, pemerintah akan berikan kesempatan pendidikan S2 di luar negeri melalui program Beasiswa Presiden,” tulis SBY.
Gencarnya pemberitaan tentang Raeni ternyata juga didengar oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY). Melalui akun Twitter-nya @S.B.Yudhoyono, SBY menyatakan akan memberi beasiswa sekolah di luar negeri untuk putri seorang pengayuh becak asal Desa Langenharjo, Kecamatan Kendal, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. ”Memenuhi rencana Raeni, pemerintah akan berikan kesempatan pendidikan S2 di luar negeri melalui program Beasiswa Presiden,” tulis SBY.
Pada mention lain SBY juga mengucapkan selamat atas prestasi yang diraih Raeni dan menyatakan rasa bangganya atas pencapaian mahasiswi Unnes itu di tengah segala keterbatasan. ”Raeni, saya ucapkan selamat atas prestasi yang sangat membanggakan kita semua. Keterbatasan ekonomi tidak menghalangi untuk berprestasi.” Bahkan, kabar gembira itu juga disampaikan langsung oleh SBY dan Ibu Negara Ani Yudhoyono saat bertemu dengan Raeni dan ayahnya, di Bandara Halim Perdanakusuma, sebelum bertolak ke Bali, Jumat (13/6) pagi.
Bisa bertemu Presiden SBY dan mendapat kabar gembira kalau bisa melanjutkan S2 di luar negeri membuat Raeni dan ayahnya tidak kuasa membendung air matanya. Apalagi, Raeni juga akan dicarikan tutor untuk melancarkan Bahasa Inggris-nya. ”Alhamdulillah banget, Mbak. Jadi penerima beasiswa Presiden kan kesempatan yang langka,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Namun, Raeni belum memutuskan akan kuliah dimana di Inggris. Ia memilih mempersiapkan diri sebaik-baiknya agar bisa pantas mendapat beasiswa tersebut. Selain dari Presiden, menurut Kepala Humas Unnes Sucipto Hadi Purnomo mengungatakan, setidaknya ada tiga yayasan yang menawarkan beasiswa kepada Raeni untuk melanjutkan kuliah S2.
Pertama, program Bidik Misi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang merupakan kelanjutan dari S1 yang diterima Raeni. Kedua, beasiswa Presidential Scholarship. Ketiga, Government Scholarship yang difasilitasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. ”Yang pasti, kami akan memfasilitasi, karena Unnes juga bagian dari pemerintah. Jadi, kami akan melakukan pendampingan terus,” ujarnya. Selain itu, juga ada beberapa foundation yang menawarkan untuk membantu mensponsori gadis kelahiran Kendal itu. Salah satunya Benny Subianto Foundation di Jakarta.
Bagi Sucipto, sosok Raeni memberikan pesan penting bahwa pendidikan dapat menjadi alat memotong mata rantai kemiskinan. Pemerintah telah mengupayakan supaya anak-anak berpestasi dari keluarga tidak mampu dapat menikmati pendidikan tinggi.
”Yang paling penting adalah kesungguhan. Raeni membuktikan kepada kita semua, kondisi keluarga yang berkekurangan tidak jadi kendala jika diiringi dengan tekad yang kuat,” ujarnya.
”Yang paling penting adalah kesungguhan. Raeni membuktikan kepada kita semua, kondisi keluarga yang berkekurangan tidak jadi kendala jika diiringi dengan tekad yang kuat,” ujarnya.






0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan kritik dan saran yang membangun :)